23 Mei 2018, Happy Birthday Boss.. Now it’s my turn..

Masih sangat jelas dalam ingatan.. 1 tahun yg lalu.. dini hari tanggal 24 mei 2017, duduk di lantai balkon rumah sakit, berpikir untuk mengambil keputusan terberat dan paling beresiko. Hampir setiap saat, aku harus ambil keputusan.. tapi belum pernah yang sesulit dan sepenting ini. Kalau dihitung mungkin sudah ratusan saran dan masukan bertubi2 masuk ke telinga dan kepala ini, namun 1 hal, yang membuat aku yakin kalau ini harus  kuputuskan sendiri, apapun resiko nya, disini hanya aku yang “bertaruh..” tanpa seorangpun yang bisa mengembalikan “kekalahanku” jika ternyata situasi “permainan” tidak seperti yang diharapkan.. Pertanyaan besarnya adalah.. apakah aku sanggup dan siap menanggung kekalahan itu?? atau justru ini saatnya untuk meninggalkan meja permainan dan berhenti bertaruh, walaupun saat itu masih dalam posisi “belum menang”, bahkan masih jauh dari “impas”.

12 jam sebelumnya.. 23 Mei 2017, tepat di hari ulang tahunnya yg ke 55, Bapak tiba2 terserang stroke yang mengharuskan kami membawa beliau kerumah sakit, berpacu dengan waktu dan dengan segala keterbatasanku saat itu. Sungguh diluar bayangan kami, namun kenyataan memaksa kami untuk menerima ini semua. Diagnosa, CT Scan dan seluruh analysis medis sama sekali tidak memberikan kabar baik, dan ini membuat kami, terutama ibu menjadi semakin terpukul. Saat itu Bayu, satu2nya adik-ku, baru saja sampai di Jakarta sehari sebelumnya.. dan langsung kembali ke Salatiga setelah menerima teleponku mengenai kondisi bapak. Saat dia sampai, dengan wajah yang sudah tak lagi bisa digambarkan apa yang ada dikepalanya saat itu. Belum pernah kurasakan pelukan yang sebegitu kuat darinya.. pelukan yang terasa sangat memberi harapan atas ini semua.

IMG_20170205_124258

Semua orang menyarankan untuk merujuk Bapak ke RS yang lebih besar dan lebih baik, namun aku tak memutuskan apapun sebelum mendapatkan rekomendasi dari dokter yg menurutku paling paham atas kondisi bapak. Aku hanya diam saja mendengar semua saran dan masukan itu, sama sekali bukan bermaksud mengabaikan, namun ini pertaruhan yang terlalu besar bagi kami, dan situasi terasa semakin sulit ketika jam 1 pagi mendengar informasi bahwa kondisi bapak tidak “Transportable”, yang artinya cukup berbahaya dan beresiko untuk dibawa dalam perjalanan darat dengan durasi yg cukup lama.

Namun rupanya.. semua orang menganggap kami, khususnya padaku yg saat itu bertanggungjawab penuh dalam situasi ini, bahwa aku terlalu bebal dan sombong krn tidak mau mendengar saran dari mereka. Aku dianggap membiarkan bapak seorang diri berjuang di Rumah Sakit yang menurut mereka tidak memiliki kompetensi untuk menyembuhkan Bapak. Ya.. aku mengerti hal ini, sangat mengerti.. namun disini akulah yang bertaruh.. dan mereka tidak, nyawa bapaklah yg aku pertaruhkan. Saat itu benar2 saat paling sulit, apapun keputusannya, resikonya terlalu besar.

4 jam duduk di balkon rumah sakit seorang diri, tanpa alas, tanpa jaket, tanpa makanan dan minuman.. memikirkan keputusan apa yang harus saya ambil, nggak sedetikpun terlintas hal lain. Tiba-tiba aku ingat pesan beliau, “Rif.. dalam memutuskan apapun, pastikan hati dan pikiranmu tenang dulu, itu yang penting, kamu nggak akan bisa ambil keputusan hebat kalau hati dan pikiranmu belum tenang.. apalagi keputusan2 sulit dan penting..  ingat ini selalu, itulah kuncinya.. krn terkadang menenangkan diri jauh lebih sulit daripada keputusan itu sendiri.. yang penting tenang dulu dan kalahkan kepanikan-nya.. “. Itulah “jurus” satu-satunya yang aku pakai malam itu.

Jam 5 pagi, masih ditempat yang sama, setelah semalaman sama sekali tak memejamkan mata, aku ambil jalan tengah.. aku memutuskan  untuk “memaksa” pihak rumah sakit mengeluarkan copy seluruh hasil rekam medis supaya bisa saya bawa ke rumah sakit khusus Stroke di Yogyakarta untuk konsultasi. Saya sampaikan ke pihak RS, apapun akan kulakukan asalkan  bisa dapat semua data itu (yang sebenarnya bersifat confidential dan tidak bisa keluar). Semua data hasil “nodong” itu, CT Scan, diagnosa, hasil laboratorium dan daftar obat yang diterima bapak berhasil sy bawa. Pagi itu juga, aku berangkat ke Yogyakarta, atas bantuan salah seorang sahabat bapak, akhirnya berhasil menemui dokter yang cukup senior dan berpengalaman dalam penanganan stroke. Hasil konsultasi berdasarkan data2 yang kubawa, menyatakan bahwa semua tindakan medis yang dilakukan dan obat yang diberikan oleh RS saat ini sudah benar, sama dengan di RS itu dan tidak merekomendasikan rujukan kesana krn terlalu beresiko. Semua tinggal menunggu hasil hari demi hari nya, apakah ada perkembangan atau tidak. Satu kelegaan dalam hati ini.. “apa gunanya dirujuk, jika yang dilakukan pun sama dengan RS sekarang..??” Semua hanya soal waktu, kita tunggu perkembangan hari demi hari nya seperti apa. Akhirnya aku berhasil “mengintip” kartu lawan saat tersisa pilihan-pilihan yang kurang menguntungkann dan cukup beresiko.

Sore harinya, didampingi Bayu di tempat tidurnya, bapak siuman, beliau mulai mengenal satu demi satu orang2 yang ada disana. Belum pernah aku se-lega dan se-gembira itu, ketika tangan kiri bapak melambai untuk meminta sy mendekat. Ingin sekali aku menangis, namun kutahan semampuku, krn bapak tak pernah mau melihat anak-anaknya lemah dan khawatir atas dirinya. Beliau yang selama ini sedemikian kuat dan tangguh, tiba2 harus kupeluk dalam kondisi tak berdaya. Sungguh bukan hal yang mudah. Sampai pada hari ke 9 di rumah sakit, beliau diijinkan pulang. Setahun sudah beliau berlatih, therapy dan berobat. Dan sampai dengan hari ini, aku bersyukur masih bisa ketemu beliau setiap hari walaupun beliau masih harus duduk di kursi roda.

Peristiwa ini benar2 merubah segalanya, merubah seluruh kehidupan yang selama ini terasa “baik-baik saja”. Semua kusyukuri, mungkin inilah jalan Tuhan untuk menjadikanku lebih baik, lebih sabar, dan lebih dewasa, Tuhan mungkin sedang ingin menghilangkan sifat2 buruk yg selama ini masih ada. Situasi ini, yang akhirnya membuka pikiranku untuk memilih berdamai dengan dunia, berdamai dengan diriku sendiri, dan berhenti untuk melawan seperti yang selama ini kulakukan.

Beban biaya yang diluar batas kemampuan kami pun justru menjadikan kami semua bekerja lebih rajin dan lebih menghargai waktu, walaupun terkadang harus meninggalkan jadwal ke Gereja karena masih harus bekerja sampingan di akhir pekan untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang ada. Namun aku meyakini, inilah caraku melayani Tuhan, dengan berjuang demi orangtuaku. Tanpa hadir di Gerejapun, aku yakin Tuhan tahu kalau aku sedang berusaha menuntaskan tanggung jawabku.

Pak, pingin banget rasanya kita bisa berdebat lagi.. bisa ngobrol2 di teras semalaman, cerita-cerita soal pekerjaan, dan soal rencana-rencana kedepan.. Pak, sekarang gantian ya.. dulu kau berjuang agar aku dan Bayu bisa sekolah, dan kuliah sampai selesai.. sekarang giliran kami yang berjuang untukmu.. untuk kesembuhan dan kebahagiaanmu bersama ibu. Aku tak tahu berapa lama waktu yang diberikan Tuhan, tapi satu hal yang masih dan akan tetap aku yakini.. bahwa ini semua pasti akan membawa dampak baik bagi kita, walaupun prosesnya sangat berat dan diluar bayangan kita semua. Aku juga tak akan pernah menyerah.. sama sepertimu saat kau melakukan apapun demi aku dan Bayu.. kau tak pernah mengeluh apalagi menyerah.

Terimakasih atas semua perjuanganmu.. sekarang aku mengerti bagaimana rasanya berjuang dan berkorban, sekarang aku mengerti kenapa “ikhlas” adalah hal paling sulit dalam hidup ini. Maaf atas semua kesalahan dan kebodohanku..  Berikan sisa2 tanggungjawabmu kepadaku, akan kuselesaikan semuanya dengan baik sesuai janjiku. Inilah giliranku..

Pak, saat ini aku membutuhkanmu untuk tetap yakin bahwa semua ini akan berlalu dengan kesembuhanmu.. aku butuh kau untuk terus berusaha tanpa henti untuk pulih seperti dulu.. bukankah kau yang selalu mengajarkanku untuk tidak menyerah.. untuk tidak putus asa apapun keadaannya??

Selamat ulang tahun ya Bpk, Sehat terus ya Bu, Tuhan pasti menyertai kalian berdua.. Setiap hari itu yang kuminta kepada Tuhan.. tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kalian bahagia, walaupun harus dengan cara seperti ini, tapi yakinlah.. inilah jalan Tuhan, dan jalan Tuhan pastilah yang terbaik bagi kita semua. Perjuangan kalian tak akan pernah sia-sia, paling tidak, kalian telah berhasil membesarkan anak-anak yang tak pernah mengeluh.. anak-anak yang walaupun tidak kaya harta, tapi tidak pernah melakukan hal2 yang merugikan orang lain, seperti yang kalian inginkan, dan anak2 yang selalu punya cara untuk lebih memilih  mencari kesempatan “mengintip kartu lawan” saat situasi hanya menyisakan pilihan untuk “bertaruh” atau atau pergi meninggalkan “meja permainan”.

Tuhan tidak mungkin terlambat,, ataupun lebih cepat.. kita tunggu kapan mujizat dan keajaiban itu datang.. yang paling penting saat ini, pantaskan diri untuk setiap berkat dari Tuhan..

Bapak, Ibuk, Bayu.. aku sayang kalian semua.. Tuhan Memberkati..

 

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someonePrint this page

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 9 =