Expectation -> Roadmap -> Execution

Merasa cukup dengan apa yang ada saat ini bukanlah sebuah hal yang salah, karena bisa saja itu adalah wujud syukur atas apa yang sudah dicapai sampai saat ini. Namun jangan sampai rasa cukup itu memberikan batas yang rendah pada ekspektasi kita dalam menjalani segala hal.

Siang ini, dengan segelas es jeruk di warung pinggir jalan, dan internet yang kurang lancar (karena saya sedang berada di lokasi yang agak nggak support buat ber-4G an), tiba2 kepikiran untuk sharing soal Ekspektasi.

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah diskusi dengan beberapa rekan nggak seprofesi (tapi masih seumuran) :p , beragam pendapat muncul saat salah satu dari kami bercerita tentang keinginannya mengembangkan bisnis sederhananya, yang baru dirintis beberapa minggu terakhir ini, ia menggambarkan bisnisnya bisa menggurita sedemikian rupa dan dapat memberdayakan banyak orang untuk ikut terlibat dan berkarya didalamnya. Sudah diduga..!!! muncul komentator.. Ada salah satu dari teman yang meragukan, dan menganggap itu adalah keserakahan dan pemikiran muluk-muluk. Its okay.. itu pendapat kritis (atau sinis) yang mana menjadi hak siapapun. Namun bagi saya, itulah ekspektasi yang sedang coba dibangun baik oleh si pencerita, maupun si komentator.

Saya selalu berusaha menggunakan pendekatan rasional saat menentukan ekspektasi atas sesuatu. Dan dari konsep ini, bisa jadi pendapat atau pikiran si komentator itu benar, karena rencana pengembangan usaha yang dilakukan tidak memiliki roadmap yang jelas, sehingga terkesan tidak rasional. Namun terlepas dari rasional atau tidaknya sebuah ekspektasi, yang paling penting adalah memberikan batas yang cukup tinggi untuk dicapai dan menentukan roadmap nya sebagai acuan untuk meng-eksekusi setiap detailnya. Jika itu bisa dilakukan maka dapat disimpulkan sebuah ekspektasi itu rasional dan dapat dicapai.

Kembali pada perasaan cukup tadi, seringkali perasaan cukup adalah sebuah bentuk batas rendah ekspektasi seseorang, merasa sudah bisa, sudah mampu dan biasanya tidak ada lagi passion untuk jadi lebih baik, lebih hebat, lebih besar dan lebih bermanfaat. Karena dengan apa yang ada sekarang, semua sudah terasa nyaman. Dalam bisnis, Inilah yang terkadang jadi penyebab minimnya inovasi, yang berdampak pada stagnannya kualitas perusahaan, dan sangat rentan terhadap kompetisi bisnis yang lebih inovatif.

Kemampuan ber-ekspektasi tinggi dan rasional haruslah menjadi skill dasar bagi siapapun, terutama bagi para leaders yang saat ini sedang memimpin sebuah perusahaan, divisi atau menjalankan sebuah usaha mandiri. Ekspektasi yang tinggi dan terus meningkat bukan bentuk rasa tak bersyukur atas pencapaian selama ini, itu dua hal yang berbeda. Ekspektasi yang tinggi adalah upaya untuk menentukan titik yang harus dicapai dalam rangka pengembangan bisnis. Karena jika kita memiliki ekspektasi yang rendah dan mudah dicapai, maka tak akan ada pertumbuhan kualitas, sedangkan diluar sana para kompetitor sedang meng-eksekusi ide-ide besar mereka atas ekspektasi yang begitu tinggi. Akibatnya.?? kita semua sudah bisa duga..

Membuat roadmap atas ekspektasi yang kita buat adalah tahapan selanjutnya, disinilah bisa diukur apakah sebuah ekspektasi bisa dicapai atau tidak, dan bisa dinilai rasionalitasnya. Roadmap bisa dikatakan sebuah alur atau peta pemikiran yang nantinya dibuat perencanaan untuk sedikit demi sedikit dieksekusi untuk mencapai target. Didalam sebuah roadmap yang baik, harus dimunculkan perencanaan detail, target yang jelas dan analisa risiko yang mungkin muncul beserta opsi penanganannya. And then.. execute it.!!!.

Membuat ekspektasi sebenarnya semudah berpikir tentang keinginan dan harapan yang terkadang muncul saat melamun, namun bedanya, ekspektasi harus di energize oleh passion, keinginan kuat, dan roadmap yang baik, sehingga tidak hanya jadi sekedar keinginan dan harapan semata.

Tidak ada karya besar tanpa eksekusi besar, tidak ada eksekusi tepat tanpa roadmap dan planning yang bagus, dan roadmap hanya bisa muncul dari sebuah ekspektasi yang rasional.

Pilihan atas batas ekspektasi, detail konsekuensi serta resikonya ada ditangan kita masing-masing. Semua adalah tentang sedalam apa kita memahami kemauan dan kemampuan kita, atau justru akan memilih untuk berhenti dan menikmati semua kenyamanan yang saat ini (masih) ada.

Arief Pramasto
IG & Tw : @ariefpramasto

Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someonePrint this page

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × four =