Gaya Hidup Semu Demi Sebuah Definisi Palsu.

Ada banyak cara bagi anak muda untuk menunjukkan eksistensinya, dari mulai yang biasa-biasa saja sampai pada hal-hal yang aneh. Semua didasari pada alasan “kekinian” dan “pengakuan”. Tulisan ini bukan bermaksud untuk membenarkan atau menyalahkan pihak-pihak tertentu dengan cara berpikir dan kemampuan finansialnya masing-masing, namun fokus tulisan ini adalah pada sudut pandang lain (yang bagi sebagian orang belum tentu sesuai) mengenai bagaimana mengelola gaya hidup, terutama anak muda (atau yang mengaku masih muda), dalam upaya mendefinisikan diri dan menunjukkan eksistensi.

Fakta bahwa banyak anak muda, yang rela membeli secangkir kopi seharga ratusan ribu, dinikmati di sebuah kafe terkenal yang sebenarnya (mungkin) rasanya tidak jauh berbeda dengan kopi sachet, dan mengumumkannya pada dunia melalui media sosial telah memberikan contoh bahwa mereka (mungkin) memiliki pola konsumsi dan pola sosial yang tidak rasional,  Secara fungsi itu hanyalah sebuah minuman, yang bisa dibeli dimana saja, bahkan dibuat sendiri dirumah. Rasanya rugi kalau beli minuman mahal, tapi nggak ada orang tahu, sehingga seolah-olah hal itu wajib untuk “diumumkan”. Semua itu tetap pada alasan yang sama, yaitu sedang berusaha / memaksa orang lain untuk memberikan predikat / penilaian pada dirinya. Dan hal ini, menurut saya adalah cara berpikir yang sulit dicerna.

Pelan-pelan saya coba memahami fenomena sosial ini, dengan memperhatikan aktifitas konsumtif mereka, maka saya mulai berpikir bahwa sebenarnya mereka sedang ingin mencoba mendefinisikan diri mereka sendiri dari sudut pandang / penilaian orang lain. Dengan cara dan pola pikir ini, mereka akan sulit menjadi diri mereka sendiri, karena selalu bergantung pada definisi orang lain. Mungkin ini yang sering orang sebut pencitraan, namun dalam level yang berbeda dengan para pejabat-pejabat yang selalu disebut melakukan pencitraan saat melakukan hal-hal baik. Pencitraan adalah hal yang baik selama sesuai dengan fakta-fakta yang ada, tanpa dibuat-buat apalagi membohongi.

Ada satu alasan yang digunakan untuk tetap bergaya hidup seperti ini, yang sering disebut adaptasi / penyesuaian diri. Adaptasi adalah salah satu faktor penting dalam hidup dan bersosialisasi, namun yang namanya ber-adaptasi dengan lingkungan sosial juga harus dibarengi oleh upaya ber-adaptasi dengan kemampuan diri, yang jika tidak disesuaikan dapat membawa masalah serius.

Sama seperti ketika mereka makan makanan mahal, judul menunya ke-barat-baratan (yang rasanya pun saya nggak yakin mereka semua suka) hanya supaya kelihatan eksis, supaya dapat komen “waaahh keren”, atau hanya untuk menunjukkan bahwa “Saya keren kan??, bisa makan di tempat mahal ini.. ” dll. Dan demi semua itu, mereka rela meng-investasi-kan waktu, pikiran dan tenaga untuk bekerja keras siang malam, dan mungkin hutang sana – sini tanpa ada return of investment yang jelas.

Lalu, apakah itu salah? hmm.. bukan soal salah atau benar.. namun sebenarnya ada cara yang lebih asik untuk mendefinisikan diri. Saya lebih tertarik pada apa yang disebut “karya” dan “kontribusi”. Hal ini lebih fokus pada manfaat yang dirasakan orang lain, hal ini juga menghasilkan penilaian dari orang lain, namun dasar penilaiannya berbeda, bukan dari apa yang kita miliki atau kita beli, namun dari apa yang kita beri, dari dampak baik apa yang bisa dirasakan oleh orang lain, melalui karya dan kontribusi kita.

Jika saat ini, para anak muda kantoran dan para eksekutif muda, ingin fokus untuk mendefinisikan diri, sebaiknya mulai me-restrukturisasi cara berpikir. Bahwa untuk jadi keren (atau terlihat keren), anda tidak perlu beli minuman dan makanan mahal, anda nggak perlu nongkrong di tempat-tempat terkenal, berusaha untuk menjadikan diri lebih fungsional melalui karya dan kontribusi positif adalah cara paling keren untuk membuktikan pada dunia bahwa anda punya kualitas.

Apa karya hebat yang sudah anda buat?, apa kontribusi yang sudah anda berikan?, dan apa dampak baik yang sudah anda ciptakan?? selain membuat para penjual makanan dan minuman mahal itu semakin kaya??

photo : payload146.cargocollective.com

Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someonePrint this page

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − 5 =